Select Menu

SaintekSIROH

PKS BERKHIDMAT UNTUK RAKYAT

BERITA SIAK

FIQIH

SIROH

Kesehatan

Saintek

Video Pilihan

PKS SIAK, BENGKALIS -   Sering kali, sesuatu yang dipaksakan, tidak akan baik hasilnya. Demikian juga soal sekolah. Para orang tua harus arif dan bijak. Tidak memaksakan anaknya masuk sekolah tertentu.

''Orang tua hendaknya jangan terjebak pada pola pikir untuk menyekolahkan anaknya di sekolah favorit. Jangan paksakan anak mengikuti kehendak orang tua. Pilihkan sekolah untuk anak yang sesuai dengan kondisinya,'' pesan Kepala Taman Kanak-Kanak (TK) Pertiwi Bengkalis, Hj Sri Chairani kepada para orang tua anak Kelompok B TK Pertiwi yang akan melanjutkan pendidikan ke Sekolah Dasar.

Hal itu dikemukakanya sempena acara perpisahan anak Kelompok B dan Play Group Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini di Jalan Pembangunan II Bengkalis tersebut dengan majelis guru, Minggu (7/6/2015) pagi.

''Orang tua jangan sampai memilih sekolah untuk anaknya karena mengejar prestise, tanpa mempertimbangkan kondisi anak. Pilihkan sekolah yang benar-benar sesuai dengan kondisi mereka,'' ulang Sri Chairani.

Sebab, kata Sri Chairani, tidak semua anak akan lebih optimal jika disekolahkan di sekolah favorit. Sebaliknya, banyak anak yang ketika bersekolah di sekolah biasa, anak tersebut lebih semangat belajar. Sehingga hasilnya lebih baik bila dibandingkan saat anak tersebut sekolah di sekolah favorit.

''Karena itu, dalam memilihkan sekolah untuk anak, pilihkan sekolah yang benar-benar nyaman untuk mereka belajar. Kenyamanan anak ketika belajar harus menjadi pertimbangan utama. Bukan sebaliknya,'' sambung Sri Chairani, seraya mengatakan ada sekitar 70 anak Kelompok B dan Play Group yang mengikuti perpisahan tersebut.

Acara perpisahan yang berlangsung dalam suasana haru namun penuh rasa kekeluargaan tersebut, dilaksanakan di ruang serbaguna TK Pertiwi.

Keharuan tersebut mulai terasa saat anak-anak TK tersebut melantunkan baik kedua lagu Terima Kasih Guru; ''Setiap hari kudibimbingnya, Agar tumbuh bakatku, Kan kuingat slalu nasihat guruku, Trima kasihku guruku''.

Saat syair bait lagu tersebut dilantungkan, bukan hanya majelis guru, tetapi tidak sedikit juga orang tua anak-anak yang akan meninggalkan lembaga PAUD tersebut yang menitikan air mata.

Sumber Goriau

PKS SIAK – Istri shalihah idaman bagi setiap pria sebagaimana suami shalih idaman bagi setiap wanita. Istri shalihah adalah aset terbesar bagi sang suami. Karena melalui rahimnya akan lahir keturunan-keturunan yang shalih dan shalihah. Merekalah yang akan melanjutkan perjuangan kedua orang tuanya, merekalah yang akan menjaga nama baik kedua orang tuanya, merekalah yang akan senantiasa mendoakan kedua orang tuanya dan merekalah peninggalan berharga setelah kedua orang tuanya kembali ke haribaan Sang Ilahi. Selain itu, istri shalihah adalah motivator bagi sang suami saat dia mulai patah semangat, sebagai pegangan saat dia mulai tak tentu arah dan pelipur lara saat dia menelan kekecewaan.

Setiap orang sukses, pasti di belakangnya ada istri shalihah yang selalu mendukung dan mendoakan dalam setiap langkahnya. Kesuksesan Nabi Muhammad saw dalam mengemban amanah suci sebagai penyampai risalah, tak lepas dari dukungan istrinya, yaitu Khadijah. Kesuksesan Umar bin Al Khaththab dalam mengemban amanah sebagai Khalifah, juga tak lepas dari dukungan istrinya yang shalihah. Dan banyak lagi para tokoh yang meraih kesuksesan, tak lepas dari perjuangan istri-istri mereka. Namun tak mudah mempunyai pendamping hidup yang bisa kita jadikan sebagai teman seperjuangan. Banyak orang-orang di sekitar kita gagal dalam membina rumah tangga bahkan sampai berakhir di ujung perceraian.

Setiap orang pasti mendambakan seorang istri yang bisa memahami keadaan suaminya, seorang istri yang bisa menjadi teman, tempat curahan hati bagi sang suami. Tapi, sayangnya tak banyak orang yang memahami bagaimana cara membimbing istri agar mendapatkan predikat shalihah. Kadang kita (para suami) cenderung egois, menuntut istri agar menjadi wanita shalihah, namun kita sendiri tak pernah berpikir bagaimana supaya kita menjadi suami yang shalih.

Ada beberapa tips yang harus dilakukan oleh seorang suami agar istrinya menjadi istri yang shalihah, istri yang membuat bidadari surga cemburu melihatnya, di antaranya:

Mengajarkan Ilmu Agama
Ilmu agama adalah pondasi utama dalam membina rumah tangga agar tercipta keharmonisan di dalamnya yang dihiasi dengan cinta dan kasih sayang. Karena itu, seorang suami setidaknya harus lebih banyak memahami tentang ilmu agama, baik yang berkaitan dengan masalah ubudiyah ataupun yang berkaitan dengan masalah amaliyah dalam kehidupan sehari-hari. Dan seandainya dia belum juga paham tentang agama, maka dia wajib bertanya kepada para pakarnya agar dia bisa memberikan pelajaran agama kepada istrinya. Lalu jika hal ini tidak memungkinkan bagi dirinya, maka dia harus mengizinkan istrinya keluar rumah guna menuntut ilmu agama. Karena melalui agama kita bisa memahami hak-hak suami dan istri. Sesuai dengan sabda Rasulullah saw, “Agama adalah nasihat.” (HR. Muslim)

Doa
Di samping usaha yang maksimal, kita sebagai orang yang beriman juga dianjurkan untuk berdoa. Semakin tinggi keimanan seorang muslim, semakin sering dia memanjatkan doa. Karena doa adalah pengakuan seorang hamba, bahwa dirinya tidak mempunyai kekuatan apapun untuk mewujudkan keinginannya tanpa adanya pertolongan dari Allah swt. Demikian juga dalam membimbing seorang istri.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra, dari Nabi saw, beliau bersabda,

إِذَا أَفَادَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً أَوْ خَادِمًا أَوْ دَابَّةً فَلْيَأْخُذْ بِنَاصِيَتِهَا وَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جُبِلَتْ عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جُبِلَتْ عَلَيْه.

“Apabila salah seorang dari kalian mendapatkan istri atau pelayan atau hewan tunggangan, hendaklah dia memegang ubun-ubunnya dan berdoa ‘Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu akan kebaikannya serta kebaikan karakternya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya serta keburukan karakternya’.”

Bersikap lemah lembut
Sesuai dengan fitrah wanita, sikap lemah lembut adalah cara terbaik dalam membimbingnya agar menjadi istri yang shalihah dan bisa dijadikan sebagai teman seperjuangan. Sikap temperamen hanya membuat seorang istri akan merasa terpojok dan tak menemukan solusi dalam dirinya, sehingga hal ini tak jarang akan mengganggu kejiwaannya. Bahkan cara seperti ini tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang terjadi dalam rumah tangga.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dia berkata: Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka apabila dia menyaksikan sesuatu, hendaklah dia berkata baik atau diam. Berwasiatlah kepada wanita dengan baik, karena wanita itu tercipta dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau memaksa untuk meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya. Namun jika engkau membiarkannya, maka dia akan tetap bengkok.” (Muttafaq Alaih)

Jika kita mampu melakukan tiga hal di atas insya Allah kita bisa membimbing istri kita menjadi wanita yang lebih baik, wanita yang bisa berkontribusi untuk membangun dan memperkokoh agama kita. Umar bin Al Khaththab ra berkata, “Anugerah terbesar yang Allah berikan kepada kita setelah iman adalah istri shalihah.

Dakwatuna

Pkssiak.org – Artikel ini sebenarnya lebih pas dibaca para suami terhadap pasangannya, di banyak grup facebook yang apapun boleh postingannya, saya melihat begitu banyak sekali istri galau yang dengan terang-terangan mengajak selingkuh anggota grup pria lainnya. Saya heran apa yang tidak diberikan suaminya sehingga sang istri begitu tega melakukan hal tersebut.

Lawan dari perselingkuhan adalah kesetiaan. Kesetiaan pasangan memainkan peranan penting dalam meraih kebahagiaan dan kasih sayang di dalam berumah tangga Anda.

Seharusnya kesetiaan itu dijaga dan dirawat dengan serius, karena perilaku selingkuh rentan dilakukan wanita maka tulisan ini, penulis sarankan kepada para Suami untuk menjaga agar kesetiaan istrinya tetap terjaga dan sekaligus menghentikan perselingkuhannya.

Untuk menjaga istri Anda dan meningkatkan rasa kebahagiaan Anda dalam membangun rumah tangga, Anda perlu memberikan pelayanan lebih baik dari apa yang sudah diharapkan oleh istri Anda dan membangun hubungan baik yang membuat Istri mempercayai Anda.

Penulis akan memberikan beberapa tips untuk membangkitkan “Trust” istri kepada Anda sebagai suami dan membuatnya menjaga kesetiaannya pada Anda :

    Dengarkan keinginannya. Agak berat memang jika keinginan itu melampaui batas kemampuan Anda, misalnya Istri Anda meminta Tablet yang harganya mahal sedangkan Anda hanya mampu membelikannya HP Nokia yang pertama kali keluar. Agak sulit memang memiliki istri yang materialistis akut, karena Anda akan tersiksa selamanya, bahayanya ketika Anda tak mampu untuk mewujudkan keinginannya, kemungkinan besar orang ketiga masuk yang mampu membelikan apapun yang istri Anda mau maka rumah tangga Anda diambang kehancuran.

Hal lain yang harus Anda mampu lakukan dalam “mendengar” adalah memperhatikan segala ceritanya, tanggapi, respon dengan antusias jangan hanya melongo. Setidaknya jikapun Anda tak mampu membelikan apa yang diinginkan olehnya, Anda adalah orang setia mendegarkan cerita dan keluh kesahnya. Karena saat Istri Anda tak lagi bercerita itu pertanda dia sudah punya tempat cerita yang baru selain Anda. Maka dengarkan cerita, curhat dan keluh kesahnya.

    Peduli padanya. Peduli itu bukan sekadar “Saya Prihatin” tetapi Anda melakukan sesuatu atas kepedulian Anda, pahami dengan benar bahwa kepedulian Anda baru benar-benar terlihat tatkala Anda berbuat sesuatu untuknya. Misalnya Anda tahu istri Anda sibuk dan kecapean maka Anda peduli dengan membantu pekerjaannya.
    Jadilah seorang yang humoris. Humor adalah Pengikat hati wanita yang terbaik, sejauh ini berdasarkan riset saya selama 15 tahun, ketika Istri bertemu dengan Anda dan Anda mampu membuatnya tersenyum bahkan tergelak-gelak dalam tertawa, maka secara otomatis rasa cinta semakin tumbuh dan menguat, sepi rasanya jika tidak ada Anda. Anda penghibur terhebat yang pernah dia tahu, bahkan komeng saja kalah dalam pandangannya. Anda sangat lucu, humoris dan “bisaan” untuk membuatnya melupakan kelelahan.
    Berpikir positif. Cemburu itu wajib ada dalam hubungan suami istri tetapi jangan cemburu buta, Anda harus memilih kata yang tepat, waktu yang tepat untuk menyalurkan rasa cemburu Anda, Anda tidak boleh bersikap seperti tidak mempercayainya, Anda harus percaya 100 % Jika Istri Anda tetap menjadi “milik” Anda dan tidak ada orang lain selain Anda. Caranya adalah dengan tetap berfikir positif dan menjauhi prasangka buruk.
    Tunjukan rasa hormat. Perlakukan Istri Anda seperti apa yang Anda ingin dilakukan istri pada Anda, Anda ingin istri Anda menghormati, menghargai Anda maka Anda harus menunjukan hal yang sama padanya. Rasa hormat dan menghargai bisa terlihat dari kesungguhan Anda dalam memenuhi segala kebutuhannya.

Ada sebuah kalimat filosofi yang pernah Penulis baca ditahun 1992 saat penulis masih berusia 12 tahun, “Tak Selamanya Pria Itu Menyeleweng dan Tak Selamanya Wanita Itu Setia”,  Banyak juga yang bertanya kepada penulis apa yang membedakan “Menyeleweng” dan “Selingkuh” ? Suatu saat saya akan menulis topik ini. Terima kasih penulis ucapkan kepada Prof. Dzakiah Drajat dan La Rose yang menginspirasi penulis dalam karya tulis Psikologi sejak Penulis masih berusia 12 tahun.

Semoga Anda semakin tangguh mengarungi hidup berumah tangga Anda.

Dakwatuna

Selain keterbukaan dan komunikasi, unsur lain yang penting adalah saling percaya dan saling menjaga kepercayaan. Saya pastikan Anda tidak akan pernah bahagia dalam menjalani hidup tatkala Anda tidak mempercayai penuh pasangan Anda dan tidak menjaga kepercayaan yang diberikan oleh pasangan Anda.

Pasangan itu baru terasa aneh setelah Anda menikah, banyak ketidakmengertian Anda padanya, banyak yang Anda akhirnya ter-oh..oh…atau bahkan bingung sebenarnya maunya apa sich? Maka langkah pertama adalah open mind dan mari bicara seperti iklan salah satu teh di Indonesia.

Ada seorang istri yang curhat tentang suaminya yang dingin, kadang menyahut seperlunya, tak banyak bicara, asik dengan dirinya sendiri, misalnya ketika ditanya “Papa, nanti jemput mama ya di Masjid A setelah pengajian? Jawabnya paling “Iya”, Rasanya kesel sekali terkesan tidak ikhlas buat menjawab dan apalagi menjemput kata sang istri, lalu ketika sampai waktunya sang istri SMS lagi “Papa..nanti pulang jemput mama, kita ke H****art ya?” Sang suami hanya menjawab “Iya”, dan ketika sampai di H****art sang istri berkata, “Papa, kita beli sarden ya, sudah lama kita tidak sahur bareng untuk puasa sunnah” eh sang suami dengan tetap dingin menjawab “Boleh….”, Gondok rasanya, pengen nangis malu, pengen mukul ga boleh, pengen diem-dieman nggak bisa, pasrah. Penulis lalu menanyakan ini kepada sang istri tersebut “Pernah ibu sampaikan soal ini langsung kepada suami kalau ibu tidak suka” jawaban dari sang istri adalah “Nggak pernah, takut suami saya tersinggung”, Jawaban saya adalah “Selamat menderita aja deh…hahahaha”, Intinya sampaikan saja dan mari bicara.

Sebenarnya banyak suami memendam rasa dihatinya, maka banyak rahasia dihatinya, ini yang banyak tidak diketahui oleh banyak istri di dunia ini. Hasil Coaching Counseling Saya pada kebanyakan suami ditemukan fakta setidaknya ada 6 perkara yang mereka rahasiakan dan sulit untuk diungkapkan, ini HARUS diketahui para istri:

    Terkadang Suami Ingin Istrinya Menjadi Pemimpin Dan Mengambil Keputusan Sendiri

“Arrijalu qawwamuna ‘alan nisa” Sesungguhnya laki-laki itu pemimpin bagi wanita, ini firman Allah Taala, begitu tertanam di benak pria dan wanita “shalih”, sehingga bagi suami yang fanatik bahwa keputusan selalu di tangannya, sedangkan istri yang fanatik tertanam di batinnya, wajib suami yang memutuskan ini dan itu.

Sesungguhnya, ada hal yang tidak terungkap secara nyata dalam diri banyak pria (suami), diungkapkan tidak tetapi nyatanya sikap dan perilaku menunjukan hal berbeda, jika Anda menemukan suami Anda hanya menjawab pendek tentang hal yang harus diputuskan itu tandanya dia menyerahkan kepada Anda untuk memutuskannya dan percayalah suami Anda tidak menyesali keputusan Anda apapun yang terjadi, tetapi dalam hal mengambil keputusan dan ketika Anda memberikan sebuah proposal kemudian suami Anda banyak memberikan komentar itu pertanda dia ingin memutuskan itu, jangan Anda memutuskannya.

Misalnya Anda mengusulkan “Pak…kita nanti bulan madu ke-10 jalan-jalan ke Malaysia ya..”, Suami Anda hanya menjawab “Iya” atau “Boleh” itu pertanda dia sudah menyerahkan pemimpinnya ada pada Anda, tetapi jika komentarnya panjang lebar itu pertanda biarkan dia memutuskan sendiri walaupun nanti tetap meminta pendapat Anda, maka dia tetap pemutus dari proposal Anda.

    Suami Ingin Istrinya Tahu Jika Dia Sangat Mencintai Anda

Banyak pria tidak suka “lebay” dalam mengungkapkan rasa, tetapi berbeda dengan Saya yang selalu menyampaikan saja apa yang ingin saya sampaikan pada istri saya, tetapi kebanyakan pria tidak suka hal-hal romantis, so sweet dengan kata-kata, tetapi ketika dia membelai rambut Anda, mengusap kerudung Anda atau memegang dagu Anda dengan gemes, menggenggam jemari Anda ketika jalan-jalan, membetulkan kerudung Anda yang berantakan atau tiba-tiba membawa oleh-oleh yang Anda tidak sangka, begitulah cara kebanyakan lelaki mengungkapkan cinta, Maka Anda sebagai istri harus langsung merespon dengan mengatakan “Ayah…I Love You So much” maka setidaknya suami Anda sudah memahami bahwa Anda pun mencintainya.

    Suami Ingin Istrinya Mandiri

Point ke-3 ini bagi Penulis bukan lagi barang baru, karena istri saya super mandiri, tidak pernah sepanjang 10 tahun pernikahan penulis bekerja di kantor dari jam 7.30 sampai 16.30 diganggu dengan telp hanya buat mengabari “Anak sakit, rumah bocor, gas habis dll”, tidak pernah sama sekali, jikapun anak saya masuk rumah sakit misalnya, saya baru tahu tepat jam 16.30 WIB pulang kerja dengan bunyi SMS “Ayah, Fathi masuk rumah sakit Islam, kamar Aisyah, ayah langsung ke sini saja jangan langsung ke rumah”, untuk kemandirian ini sudah saya tulis bersama istri saya dalam buku “Extraordinary Wife”, artinya harapan penulis sebagai suami di poin ini sudah tercapai.

Kebanyakan suami yang tidak dipahami banyak istri adalah suami Anda ingin Anda mandiri tanpa mengganggunya, Ketika Anda mampu mengatur kapan bekerja, kapan menyuci pakaian keluarga, kapan masak, kapan mendampingi anak-anak mengerjakan PR, kapan berdakwah diluar rumah, kapan bersosialisasi dengan tetangga maka dalam pandangan Suami bahwa Anda seorang yang Mandiri, dan banyak wanita tidak mengetahui bahwa wanita mandiri dalam pandangan suami sangat seksi. Keinginan suami ini kebanyakan tidak pernah sampai pada istrinya, sehingga banyak istri bergantung kepada suaminya.

    Suami Ingin Anda menghargainya

Ini hal yang paling sensitif dan banyak para istri mengabaikan ini baik karena ketidaktahuan atau sengaja ingin menyakiti suaminya, misalnya ketika suami Anda pulang dari jauh-jauh misalnya pulang kerja dari luar kota, lalu Anda diberi kejutan dengan sebuah oleh-oleh dengan harapan Anda senang, jangan pernah Anda komentari sedikit pun bahwa Anda tidak suka sebenarnya, terima saja dan pakai saja demi menyenangkan hatinya.

Suatu ketika seorang suami pernah Penulis Counseling karena merasa tidak bahagia karena istrinya tidak menghargainya dan itu sering terjadi dalam kehidupan rumah tangganya, salah satu yang paling menyakitkan hatinya tatkala dia pulang dari kerja di Kalimantan diperkebunan sawit, dia pulang dengan bahagia dengan uang yang banyak serta oleh-oleh, sebuah baju tidur yang cantik menurut suaminya, lalu sang istri berkomentar “Kenapa beli warna merah, mama kan gak suka warna merah!” dengan kesal suaminya merampas baju tidur itu lalu kemudian dicincang menggunakan golok yang ada di rumahnya. Pertengkaran pun terjadi. Jadi, hargai apapun yang dibelikannya karena tanpa Anda sadari dia sangat ingin Anda bahagia dengan pembeliannya. Ucapkan terima kasih dan peluklah dia karena sesungguhnya walaupun Anda tidak suka baik karena tidak sesuai selera, bahwa suami Anda telah membuktikan dia mencintai Anda dengan membelikan sesuatu yang dia suka untuk Anda.

    Suami ingin Bilang “Hari ini Kau Milikku, Bukan Milik Partaimu, Bukan Milik Kantormu”

Kesibukan suami Anda dan kepenatannya bekerja sepanjang hari membutuhkan waktu yang dia ingin hanya Anda, dia dan anak-anak Anda menikmatinya diakhir pekan, Maka jangan heran jika suami Anda marah besar saat dihari sabtu minggu Anda masih memiliki kegiatan yang banyak diluar rumah seperti partai, pendidikan, sosial, ngaji, apapun jenis kegiatan Anda. Tatkala dia jarang bersama Anda, dia ingin hari itu Anda hanya bersamanya, jangan coba-coba Anda sibuk dengan gadget Anda karena itupun baginya sangat sensitif untuknya yang menandakan bahwa Anda telah menganggapnya tidak penting.

Tetapi, terkadang Anda sebagai istri sulit menebak hatinya, karena bisa jadi sabtu minggu dia ingin sendiri saja, dia ingin tidur saja dan membiarkan Anda dalam kegiatan sosial Anda, Penting untuk Anda ketahui bahwa dalam menjalin hubungan suami istri perlu ada waktu “Aku igin sendiri” baik itu istri maupun suami, tetapi yang banyak terjadi pada suami. Dia tidak ingin diganggu telp masuk, dia tidak ingin diganggu masalah, dia hanya ingin sendiri, merenung dan berfikir tentang hidupnya.

Kesulitan menebak inilah yang mengharuskan adanya komunikasi, sehingga tinggal ditanyakan saja “Pekan ini pengen Kanda gimana?” Pengen jalan-jalan sama anak-anak atau di rumah saja, jika pilihannya di rumah itu pertanda dia ingin menyendiri tetapi jika dia memilih untuk bepergian dengan Anda dan anak-anak Anda dia ingin waktu Anda hanya untuknya saat itu.

Terkesan egois memang, tetapi begitulah kebanyakan laki-laki, Anda boleh tidak mengikuti nasihat ini asal siap dengan resiko yang Anda hadapi dalam rumah tangga. Penulis sudah melakukan banyak interview dengan pasangan-pasangan suami istri dan menemukan banyak kasus perceraian dengan alasan yang tidak jelas hamya karena “miskin komunikasi” dan “sama-sama egois”.

    Suami Berharap Anda Mengerti Tentangnya

Sebuah petikan lagu bahwa “Wanita ingin dimengerti” sesungguhnya tidak hanya kebutuhan para istri, tetapi para suami pun ingin dimengerti, maka saling pengertian inilah yang harus dibangun dengan rasa kepercayaan tingkat tinggi, Anda percaya saja bahwa apapun yang menjadi keputusan dalam hubungan Anda tentang apapun harus ada saling pengertian, jangan hanya karena hal sepele menjadikan rumah tangga Anda neraka Jahannam di dunia.

Nah gimana para istri, apakah sudah paham akan apa saja yang diinginkan oleh suami Anda? Mulai sekarang silakan biasakan diri dan lakukan hal yang sangat disukai pasangan Anda agar hubungan asmara Anda dengannya lebih bahagia, sakinah mawaddah wa rahmah.

Dakwatuna.com

Banyak penulis dalam berbagai buku mereka yang membahas tentang fitrah seorang anak yang cenderung pada kebaikan karena pada dasarnya anak itu memiliki kebaikan dalam diri mereka. Bahkan ada orang tua yang mengatakan bahwa dunia anak itu adalah dunia kepolosan dan apa adanya. pertanyaannya sekarang mungkinkah seorang anak itu berbohong?. Beranjak dari berbagai pengalaman sehari-hari sebagai seorang guru dan saudara dari adik-adik saya, jawaban saya “Anak mungkin saja berbohong”.

Jika anda adalah tipe orang tua yang selalu percaya dan mengatakan benar apa yang selalu anak katakan saya sarankan mulai saat ini anda jangan mudah percaya begitu saja apa yang dikatakan anak. Ini bukan berarti saya menyuruh anda tidak mempercayai anak anda namun agar anda lebih teliti dengan kecerdasan yang dimiliki anak-anak. Banyak anak yang dunia mereka sangat polos dan berkata biasanya apa adanya namun ada beberapa anak yang sangat luar biasa yang memiliki kecerdasan yang tidak biasa yaitu linguistik (Berbahasa) dan kecerdasan memanifulasi fakta. Bila kecerdasan berbahasa dan memanifulasi fakta ini ada dalam diri anak akan muncul sebuah tindakan baru, merupakan hal yang positif jika orang tua dan guru mampu bersinergi dalam mengarahkannya.

Sebagai seorang guru saya memiliki pengalaman yang terkadang mengejutkan. Ada anak yang memilih sikap saat di rumah dan saat mereka berada disekolah, ketika mereka berada di rumah anak begitu polos dan disiplin namun ketika mereka berada jauh dari rumah, mungkin saat anak di sekolah sebuah kejadian yang tidak terduga terjadi anak yang saat di rumah begitu polos berubah menjadi tidak terkendali ini adalah sebuah tindakan anak dalam menentukkan sikap mereka. Hal ini terjadi mungkin disebabkan keadaan anak saat di rumah sangat terkekang oleh banyaknya aturan orang tua , dan anak tidak memiliki pilihan lain selain taat pada peraturan atau menerima konsekuensi berupa hukuman dari orang tuanya, namun saat anak jauh dari pantauan orang tua anak mulai memilih sikap (membebaskan diri dari segala aturan rumah), anak mulai tidak menaati praturan, tidak disiplin dan berbagai kejadian lainnya. ini juga terjadi karena anak menentukkan sikap.

Maka sebagai orang tua dan sekaligus seorang guru hendaknya kita tidak mudah menerima tindakan dan ucapan anak karena tidak semua anak memiliki dunia yang polos, ada kalanya mereka mampu menentukkan sikap bahkan memanipulasi keadaan yang menguntungkan dirinya. Banyak anak yang mencari zona aman dengan cara memanipulasi atau berohong terhadap apa yang terjadi sebenarnya hanya untuk melindungi diri mereka dari ancaman orang tua atau guru mereka.

Berbohong adalah suatu perbuatan yang disengaja atau tidak, perbuatan ini dilakukan untuk menipu orang lain utnuk mendapatkan hal yang positif dan menghindar dari hal yang negatif. Menurut C. Drew Edward, Ph.D seorang pakar Psikologi Anak, dalam bukunya “Ketika Anak Sulit diatur” menyebutkan alasan seorang anak berbohong sama dengan alasan orang dewasa yaitu untuk menghindari konsekuensi atas prilaku mereka karena mereka malu mengakui kejadian yang sebenarnya, atau untuk menghindari hal-hal yang memalukan atau penolakan terhadap dirinya. Anak juga bisa berbohong hanya untuk mendapatkan perhatian dari orang-orang di sekitarnya atau anak berbohong saat orang tua dan guru marah kepadanya.

Dakwatuna.com

“Eh, Nyeet…apa kabar?”

“Bukan begitu, Ndut.”

“Lah, ngapain lu, Unta Arab?”

“Woi, Mbing, udah cukur jenggot belum?”

Nyeet, Ndut, Cungkring, Mbing..dan lainnya. Pernah dengar panggilan busuk seperti itu? Enak nggak sih dengarnya? Masa teman yang sosoknya sholeh manggilnya “Unta Arab”? Rasulullah SAW saja memanggil para sahabat dan para istrinya dengan panggilan yang baik dan nggak nyakitin. Dikatakan panggilan yang baik adalah panggilan yang disukai oleh objek dan tidak memperoloknya.

Dalam sebuah halaqoh, misalnya. Jika nama mutarabbi (binaan) bukan nama yang islami maka murabbi dianjurkan untuk memberikan nama hijrah berdasarkan kesepakatan dengan binaannya. Ada itu yang tadinya berpanggilan “Utomo” lalu diganti menjadi “Fadhol”. Kalaupun tak diganti tak apa, yang penting baik dan sekali lagi, tidak menyakiti.

Dalam pergaulan atau persahabatan nama panggilan juga patut diperhatikan. Misalnya, kalau kamu punya teman bernama Hamas Syahid, maunya dipanggil Hamas atau Syahid. Jangan mentang-mentang dia rambutnya kribo manggilnya “Kribo”. Atau kalau punya teman bernama Tausiyah Cinta, tanyakan apakah mau dipanggil Tausiyah atau dipanggil Cinta. Eh, itu nama orang kok kayak judul film yang akan tayang September nanti ya? Ah ngacau!

Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim. (QS 49 :11)

“Gue nggak maksud menghina kok! Lha wong ia juga mau dan senang!”

Ok, boleh-boleh saja jika kasusnya demikian. Lantas bagaimana perasaan orang tuanya (yang kasih nama) seandainya tahu anaknya dipanggil dengan gelar yang buruk? Bukannya itu juga nyakitin perasaan kerabatnya yang lain? Apalagi jika teman itu sudah punya anak atau istri? Duh, kasihan kuadrat lah.

Ketika Allah memerintahkan manusia untuk tak mendzalimi orang lain, apakah kamu akan menjawab “orang itu suka didzalimi kok”, begitu?

Ingatlah, nama adalah do’a. Memanggil dengan panggilan yang tidak busuk selain doa, juga membuat persahabatan kamu makin kokoh. Wallahua’lam.

BersamaDakwah.com

Sering kali orang menunda mandi junub tanpa alasan. Misalnya pasangan suami istri yang telah menyelesaikan hajatnya. Mereka langsung tidur begitu saja.

Dalam kitab Shahih At Targhib wa At Tarhib, ada satu bab khusus berjudul “Ancaman Menunda Mandi (Junub) Tanpa Alasan”

Di bawah bab itu dicantumkan dua buah hadits shahih yang berisi ancaman menunda mandi junub tanpa alasan. Apa ancamannya? Orang yang menunda mandi junub tidak akan didekati oleh malaikat rahmat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ثَلَاثَةٌ لَا تَقْرَبُهُمُ الْمَلَائِكَةُ الْجُنُبُ وَالسَّكْرَانُ وَالْمُتَضَمِّخُ بِالْخَلُوْقِ

“Tiga orang yang tidak didekati oleh malaikat (rahmat): orang junub, orang mabuk dan orang yang berlumuran minyak wangi khaluq.” (HR. Al Bazzar; shahih)

Dijelaskan oleh Al Hafizh bahwa yang dimaksud dengan malaikat pada hadits ini adalah malaikat yang turun membawa rahmat dan berkah, bukan malaikat hafazhah (yang mengawasi) karena mereka selalu bersama manusia dalam kondisi apapun.

Jadi, bagi orang yang menunda mandi junub tanpa alasan –misalnya karena malas atau menyepelekan- maka ia tidak didekati oleh malaikat rahmat. Lalu apakah seseorang harus segera mandi junub begitu ia selesai berhubungan? Rasulullah mencontohkan, setelah menunaikan hajat bersama istrinya kadang beliau langsung mandi junub kadang tidak langsung mandi junub. Ketika beliau tidak bisa langsung mandi junub, maka beliau berwudhu dulu sebelum tidur.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَيْسٍ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ وِتْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ قُلْتُ كَيْفَ كَانَ يَصْنَعُ فِي الْجَنَابَةِ أَكَانَ يَغْتَسِلُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ أَمْ يَنَامُ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ قَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ رُبَّمَا اغْتَسَلَ فَنَامَ وَرُبَّمَا تَوَضَّأَ فَنَامَ قُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً

Dari Abdullah bin Abi Qais ia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah tentang witir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu dia menyebutkan suatu hadits. Aku bertanya lagi, ‘Bagaimana yang beliau perbuat ketika dalam keadaan junub, apakah beliau harus mandi sebelum tidur atau tidur tanpa mandi? ‘ Aisyah menjawab, ‘Sungguh semuanya telah dilakukan beliau, kadang beliau mandi lalu tidur, kadang beliau berwudhu lalu tidur.’ Aku berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang menciptakan dalam perkara tersebut suatu keleluasaan’.” (HR. Muslim)

Hadits lain dalam bab ancaman menunda mandi (junub) tanpa alasan memperjelas bahwa yang terkena ancaman tidak didekati malaikat rahmat adalah menunda mandi junub tanpa berwudhu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ثَلاَثَةٌ لاَ تَقْرَبُهُمُ الْمَلاَئِكَةُ جِيفَةُ الْكَافِرِ وَالْمُتَضَمِّخُ بِالْخَلُوقِ وَالْجُنُبُ إِلاَّ أَنْ يَتَوَضَّأَ

“Tiga orang yang tidak didekati oleh malaikat: bangkai orang kafir, orang yang berlumuran minyak wangi khaluq dan orang junub kecuali jika ia berwudhu” (HR. Abu Dawud; shahih)

Adapun yang dimaksud dengan minyak wangi khaluq adalah minyak wangi kombinasi za’faran dan lainnya, didominasi oleh warna merah dan kuning.

Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/bersamadakwah]


pkssiak.org   Wahai Ibunda, saat pertama kali kita mengandung pasti ada berjuta rasa yang terpatri dalam relung jiwa. Ada perasaan haru, bangga, bahagia, cemas, khawatir ataupun meragukan kemampuan diri. Ya...perasaan yang hadir itu sekiranya memang wajar bunda. Apalagi ketika si kecil sudah lahir ke dunia ini. Perasaan tersebut kembali hadir, bahkan levelnya sedikit lebih naik. Jika masih ada perasaan cemas dalam diri kita terhadap masa depannya, itu sangatlah wajar bunda. Menerima amanah titipan Allah berupa sosok mungil yang awalnya masih rapuh dan suci, kemudian menjadi tanggung jawab kita untuk mendidiknya hingga besar, memberikan makanan bagi jiwa raganya, menyusuinya, menyayanginya, mengayakan pikiran dan jiwanya dengan iman dan akidah yang akarnya kokoh hingga ke sanubari, itu tidaklah mudah. Ada beribu nilai yang harus kita punya sebagai bekalnya. Dan seiring dengan perkembangannya, justru kitalah yang makin bertambah ilmunya, makin hari kita makin belajar dari sosok mungil itu. Allah Maha Besar, Maha Adil... Satu hal yang harus selalu hadir dalam hati kita adalah kesabaran. Ya...kesabaran, yang dibaluri dengan keikhlasan yang paripurna. Allah memberikan reward yang paling tinggi dan indah untuk siapa saja bagi hambaNya yang mampu memiliki kesabaran ekstra.

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar 39:10)

 “Mereka itulah orang-orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya”. (QS. Al Furqaan 25:75)

Oleh karenanya, sangatlah wajar bunda...jika syetan sering bermain dengan kesabaran kita saat mendidik buah hati. Ia begitu bersemangat menghasut dan membisiki kita saat si kecil mulai rewel, aktif ataupun menggemaskan. Namun selalu ingat bunda.... bahwa anak itu tak pernah salah. Ya... tak pernah salah, karena Allah saja belum memberlakukan dosa atas dirinya. Syetanlah yang selalu membisiki kita bahwa si kecillah yang bersalah. Namun jika si kecil terlihat melakukan suatu hal yang tidak wajar, justru kitalah yang perlu interospeksi diri...atas apa yang ia contoh dari kita atau tayangan media yang kerap kita suguhkan. Ya, karena kitalah yang bersamanya 24 jam.

Mendidik anak bukanlah perkara yang mudah, namun tidaklah pula kita berlepas tangan dari amanah istimewa ini. Ibu... adalah sebagai sekolah pertama bagi buah hati. Ummu madrosatul'ula. Ibu adalah guru yang utama bagi anak-anaknya, karena ibu lah yang pertama ia rasakan kehadirannya saat dalam janin, yang pertama ia rasakan pula detak jantungnya, dari ibulah pertama kali si kecil mendapat makanan, dan itu saat di dalam rahim sang Ibu. Bisa dibayangkan bagaimana fitrah ini bisa terjadi, bagaimana ikatan ini bisa terjalin...antara Ibu dan anak. Bahkan mulai saat sang bunda mengandung, tanpa sadar ikatan itu perlahan terjalin dan terajut. Dengan mendidik buah hati dari tangan kita lah, ikatan itu akan semakin terjalin erat. Mungkin di antara kita, masih ada yang belum percaya diri dengan predikat ummu madrosatul 'ula ( ibu sebagai sekolah pertama). Namun janganlah khawatir bunda...sebenarnya dari tangan kitalah (sang Ibu) anak-anak lebih ridho diajarkan.

Jika melihat dunia pendidikan formal di sekolah-sekolah yang mainstream saat ini memang begitu mengkhawatirkan, entah yang berasal dari pergaulannya, tenaga pendidiknya atau dari sistemnya. Terlebih di negara kita tercinta ini. Mungkin karena rasa bingung dan kurang percaya diri itulah sang Ibu atau orang tua kerap 'menitipkan' anak-anaknya untuk dididik disebuah lembaga pendidikan formal yang diakui pemerintah. Meskipun masih banyak juga lembaga pendidikan yang baik dan bersesuaian dengan akidah serta sunnah Rasul yang kita yakini. Namun jika seorang Ibu bisa lebih sedikit mengubah cara pandangnya, kita juga bisa menyusun dan merancang pendidikan yang lebih profesional meskipun dibalik tembok rumah. Dengan tenaga pendidik yang tentunya juga sudah punya ikatan kuat dengan sang anak, yaitu kita sendiri, Ibu. Oleh karena itu, keliru jika ada seseorang yang beranggapan tak perlulah sekolah dan pendidikan yang tinggi jika hanya ingin menjadi ibu rumah tangga. Justru otak dan pemikiran seorang Ibu haruslah di jejali dengan berbagai ilmu dengan pendidikan yang tinggi, psikis atau jiwanya didukung gizi ruhani yang mumpuni dan sempurna, fisiknya pun harus selalu tampil segar bugar menawan. Tepislah anggapan bahwa predikat seorang Ibu rumah tangga hanyalah seorang ibu dengan ilmu yang pas-pasan, kurang terdidik, kuper, dengan penampilan kucel ala daster rumahan. Bahkan di negeri sakura Jepang, banyak para wanita nya yang sengaja berpayah-payah lulus S2 (magister) demi untuk mendampingi sang buah hati, menjadi guru utama untuk mereka.

Mulailah timba ilmu bagaimana menjadi seorang Ibu yang profesional, layaknya sebuah jabatan di dalam perusahaan bergengsi. Jabatan Ibu adalah jauh lebih mulia dibandingkan profesi apapun, jauh lebih berat deskripsi kerjanya dibandingkan profesi manapun. Anda pasti sudah tahu, dalam sehari 24 jam, seminggu 7 hari, siang ataupun malam, baik dalam keadaan terjaga ataupun terlelap... seluruh komponen dalam keluarga kecil kita pasti membutuhkan peran kita. Meskipun latar pendidikan kita hanyalah SD atau SMP, cobalah untuk menggali ilmu pengasuhan atau parenting dari berbagai sumber atau rujukan. Bukalah diri kepada informasi dunia luar, mulailah dengan ikut kegiatan-kegiatan sosial di luar rumah, seperti mengikuti pengajian ataupun komunitas yang positif yang mendukung kita untuk selalu memperdalam ilmu parenting. Sebenarnya rujukan yang paling sempurna sudah kita temukan didalam kitab Al Qur'an. Rujukan bagi ilmu dari segala ilmu, karena langsung datang dari yang Maha Berilmu. Silahkan baca lembar demi lembar firmanNya, pasti akan kita temukan ilmu pengasuhan paling baik didunia ini. Bacalah surat Lukman, Ali Imran, Yusuf atau Maryam, ataupun surat-surat yang lain yang masih banyak tersirat ilmu-ilmu pendidikan.

Bayi, ataupun seorang anak yang baru saja hadir di dunia ini.... laksana seorang pengembara yang baru datang ke sebuah negeri yang belum pernah ia kunjungi. Bahkan untuk menjadi seorang manusia pun adalah hal yang baru baginya. Maka awal mula, ajarkanlah ia terhadap 3 hal pokok yang mendasar yang sangat dibutuhkan dirinya, yakni bagi jiwa (ruh/psikis), akalnya (pikiran) dan jasadinya (fisik). Adalah iman yang paling pokok di butuhkan jiwanya. Sesungguhnya Allah SWT telah melakukan perjanjian suci dengannya saat di alam ruh, tentang penghambaannya terhadap RabbNya. Mari kita simak perjanjian indah ini dalam Al Qur'an :

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar pada hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keEsaan Tuhan)”. (QS. Al A’raaf, 7 : 172)

Maka dari tangan orangtuanya lah, ruh yang ada didalam bayi mungil itu kita didik, seolah-olah kita asah lagi kemampuan dan ingatan mereka untuk mengenali Tuhannya, Allahu Robbul 'alamin. Kembalikan lagi mereka ke dalam fitrahnya. Inilah kebutuhan mendasar bagi ruh nya, kenalkan ia kepada ketauhidan, selami ia pada ilmu-ilmu agama Islam. Tumbuhkan rasa cintanya pada kalamullah, Al-Quranul karim, sebagai manual book bagi kehidupannya. Kenalkan ia pada sosok suri tauladan bagi ummat Islam, Nabiyullah Muhammad saw. Tuntunlah ia untuk mengidolakannya, mempelajari kisah hidupnya, meneladani perkataan dan perbuatannya yang tertuang di dalam sunnah-sunnahnya, dan mencintainya pula agar shalawat senantiasa tercurah pada baginda nabi. Jika anak sudah dapat mencontoh tingkah laku dan tutur kata Nabi, InsyaaAllah mereka akan berusaha menjadi pribadi yang berakhlakul karimah (akhlak yang mulia). Perkokoh ketauhidan dan keislamannya dengan Rukun Islam dan Rukun Iman yang terpatri kokoh dalam jiwanya. Setelah itu, barulah kita beri bekal ilmu yang mumpuni bagi akal dan fisiknya.

Bagi kebutuhan akalnya, kita bisa mengawalinya dengan mengenalkannya pada lingkungan sekitarnya. Lingkungan yang paling dekat dengannya. Inilah yang selanjutnya akan berkembang secara alami pada diri anak menjadi bercabang-cabang ilmu, mulai dari sains sampai kehidupan sosial. Asahlah dengan tajam apa yang diminati jiwanya. Jangan sampai terjejali akal pikirannya dengan ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat. Ketika ia mulai hadir didunia ini, tugas kitalah sebagai pemandunya, ibarat seorang guide bagi orang asing yang baru mengenal sebuah negeri. Ajarkan secara alami sesuai perkembangan psiko-motoriknya. Carilah informasi mengenai tumbuh kembang anak mulai dari lahir hingga ia menginjak dewasa. Ini bisa kita dapatkan secara ilmiah di rumah sakit, pelayanan kesehatan anak, dan lain sebagainya. Jika ingin lebih profesional, kita bisa membuat daftar kolom perkembangan psiko-motorik dan daftar kegiatan yang dapat menstimulasi perkembanganya. Barulah pada usia pra sekolah dan sekolah, selanjutnya kita bisa membuat seperti jadwal pelajaran atau silabus pembelajaran. Bahkan kita bisa membuat kurikulum sendiri yang sesuai dengan perkembangan serta kompetensi anak. Bagi bunda yang sudah mahir dan lihai berselancar di dunia maya, sudah banyak sekali pilihan dan informasi menarik seputar pendidikan yang dapat menginspirasi bunda-bunda saat menjalankan peran guru bagi sekolah ibu :). Atau jika kita mau menjallin silaturahim, maka mulailah untuk melakukan observasi ke sekolah-sekolah bayi atau anak, baik yang formal ataupun informal, sekaligus nantinya bisa dengan mudah memilihkan sekolah formal untuk anak kita.  Atau jika bunda memutuskan ingin melakukan homeschooling untuk pendidikan anak, bisa berdiskusi bersama sahabat Ibu lain yang sudah sukses membina homeschooling atapun sudah sukses mendidik sang buah hati dengan tangannya sendiri. Pilihan yang tepat ada di tangan bunda dan buah hati, diskusikan bersamanya apa yang terbaik bagi dirinya.

Bagi kebutuhan fisiknya, penuhilah tubuhnya dengan makanan yang halal dan thoyibah. Jika sudah halal dan thoyibah, InsyaaAllah sudah pasti sehat dan bergizi. Karena makanan yang halal dan thoyib sejatinya adalah pola makanan yang sudah diatur Allah SWT untuk memenuhi kebuthan dasar tubuh manusia, sebagai zat Khalik yang memang mengenal makhluk yang Ia ciptakan. Maka tak ada keraguan lagi. Ajarkan anak untuk mengenal konsep halal, haram dan syubhat. Namun tetap arahkan untuk selalu memilih yang halal dan baik (thoyib). Dalam hal pelatihan fisik serta olah tubuh ragawinya, asahlah motoriknya dengan mengenalkan anak pada olahraga. Minimal olahraga yang dianjurkan Rosulullah saw. Yaitu berkuda, memanah dan berenang. Inilah yang saya kutip dari situs nuranifkmui.com :

Dengan berkuda, masalah tulang belakang manusia dapat terawat dengan baik. Karena, semasa pergerakan kuda melompat dan berlari menyebabkan tulang belakang manusia bergesek satu sama lain dalam keadaan harmoni sehingga saraf-saraf tulang belakang seolah-olah diurut.

Dengan memanah, kita dapat melatih emosi kita. Memanah sangat menitikberatkan body balancing. Maka jika pemanah emosinya tertekan, maka panahan amat mudah tersasar. Seseorang yang sikapnya tidak sabar, pemarah atau kurang baik mentalnya maka, ia tidak akan menjadi pemanah yang baik. Rasulullah saw. bersabda,” Kamu harus belajar memanah karena memanah itu termasuk sebaik-baik permainanmu.” (Riwayat Bazzar, dan Thabarani dengan sanad yang baik).

Dengan berenang, akan menambah stamina tubuh kita karena segala otot dan tulang rangka digerakkan untuk membuat satu gerakan yang berkoordinasi antara dua anggota kaki dan dua anggota tangan. Berenang juga memberi peluang manusia untuk menguasai air sehingga manusia menjadi makhluk yang berani.

Rasulullah saw. bersabda, “Lemparkanlah (panah) dan tunggangilah (kuda)” (HR. Muslim). Umar bin Al-Khaththab radiallahu ‘anhu juga berkata: “Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah, dan menunggang kuda.” Dengan berolahraga seperti itu, kita telah mempersiapkan dan melatih jasmani kita agar senantiasa kuat dan sehat dalam menjalankan tugas-tugas yang allah swt. berikan. Sesungguhnya allah swt. sangat menyukai umatnya yang kuat dibandingkan yang lemah.

Semoga dengan memenuhi tiga kebutuhan mendasar manusia tersebut, kita dapat menjadi Ibu yang benar-benar bisa melahirkan pemimpin terbaik untuk generasi masa depan. Membentuk sosok-sosok khalifah Allah yang tangguh di kemudian hari. Sehingga saat sepeninggal kita, keimanan yang kokohlah yang terpatri didalam jiwanya, akal pikiran yang sehatlah yang membantunya menjalani kehidupan ini, dan raga yang kuat juga mampu mendukungnya dalam beramal shalih, amar ma'ruf nahi munkar.

Akhir kata, dengan tulisan ini bukan berarti saya sudah menjadi Ibu yang profesional yang mengajarkan bunda-bunda semua, saya pun masih belajar dan sarat akan kekhilafan dan kefakiran ilmu. Mari sama-sama belajar menjadi Ibu yang profesional bagi anak-anak kita, sebagai amanah suci yang Allah titipkan kepada kita. Semoga buah pikiran dari diri pribadi ini bisa menjadi amunisi dan motivasi bagi bunda semua, terlebih saya pribadi secara khusus. Semoga kita bisa mengemban tugas  Al Ummu Madrosatul 'ula dengan sebaik-baiknya. Aamiin Aamiin Allahumma Aamiin.

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Pemimpin negara adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin bagi anggota keluarga suaminya serta anak-anaknya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang budak adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari 893 dan Muslim 1829).

 
Jakarta, Kamis 13 November 2014
Salam,
Ummu Maiza
Penulis merupakan Alumni Pendidikan Biologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), berstatus sebagai Ibu Rumah Tangga dan Owner www.galerideu.com
[islamedia.co]
Anak main laptop


pkssiak.org - Sebagai orang tua atau guru, Anda mungkin sering merasakan bagaimana susahnya membuat anak memperhatikan Anda ketika mereka sedang asik menonton televisi, bermain game, atau membaca buku.

Mereka tampaknya memiliki kemampuan untuk tidak mempedulikan sekelilingnya sehingga berteriak menggunakan pengeras suara pun tampaknya tidak berpengaruh bagi mereka.

Namun peneliti percaya ada alasan bagi kurangnya perhatian mereka, yaitu terkait dengan perkembangan otak.

 Peneliti mengatakan ketidakpedulian anak-anak bukanlah hal yang disengaja; mereka mengalami apa yang disebut sebagai “ketidaksadaran yang tidak disengaja.”

 Menurut Prof Nilli Lavie, dari University College London, anak-anak memiliki kesadaran lingkungan yang cenderung kurang dibandingkan orang dewasa.
“Orang tua dan wali harus tahu,” kata Lavie. “Bahkan jika anak fokus pada sesuatu yang sederhana, itu akan membuat anak-anak kurang sadar akan lingkungan mereka, dibandingkan dengan orang dewasa.”

 “Sebagai contoh, seorang anak yang mencoba menutup ritsleting mantel mereka selagi menyeberang jalan, mungkin tidak bisa menyadari lalu lintas di jalan.

 “Sedangkan otak dewasa yang lebih berkembang tidak akan memiliki masalah dengan itu.”
“Kemampuan untuk menyadari apa yang terjadi di sekeliling selagi mereka fokus mengerjakan sesuatu adalah kemampuan yang berkembang seiring usia,” jelasnya.

 Pandangan Lavie didasarkan pada percobaan dia dilakukan baru-baru ini yang melibatkan anak-anak dan orang dewasa, demikian dilaporkan wartawan BBC Philippa Roxby.

 Riset ini mengindikasikan bahwa anak-anak yang fokus mengerjakan satu hal tidak memiliki atensi yang cukup untuk mendeteksi apa yang terjadi di lingkungannya.

 Karena itu, ada dampak keselamatan dari belum berkembangnya otak secara penuh ini.
Berjalan sambil mengetik di ponsel misalnya bisa mendatangkan bahaya yang lebih besar pada anak-anak dibandingkan pada orang dewasa.


Sumber : BBC Indonesia


[pkscibitung]
 
pkssiak.org - Inilah Hadits yang termaktub dalam Shahih Muslim. Masuk pada bab Sedekah, diterangkan bahwa suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bertanya kepada para sahabat, “Siapa di antara kalian yang berpuasa hari ini?”
Maka Abu Bakar menjawab, “Aku.”

“Siapa di antara kalian yang mengantar jenazah pada hari ini?” Rasulullah SAW bertanya lagi.

Maka Abu Bakar kembali menjawab, “Aku.”

Nabi SAW bertanya, “Siapa di antara kalian yang memberi makan kepada orang miskin pada hari ini?”

Maka Abu Bakar menjawab, “Aku.”

Nabi SAW bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang pada hari ini menengok orang sakit?”

Abu Bakar menjawab, “Aku.”

Maka Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seluruh perkara ini berkumpul dalam satu orang melainkan ia akan masuk surga.” (Riwayat Muslim).

Ada pelajaran penting yang perlu kita renungkan. Untuk mengantarkan anak-anak kita meraih surga, salah satu pilarnya adalah ringannya hati untuk mendermakan hartanya. Bukankah salah satu bukti takwa adalah kerelaan menafkahkan sebagian hartanya untuk menyantuni mereka yang miskin, membantu anak yatim, menolong agama Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) serta segala sesuatu yang bernilai ibadah kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman, “Alif laam miim. Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (Al-Baqarah [2]: 1-4).

Berpijak pada ayat ini, kita perlu mempersiapkan anak-anak kita agar tangan mereka selalu di atas. Bukan di bawah mengharap derma jatuh. Kitalah yang harus mendidik mereka agar senantiasa memiliki kegelisahan untuk berbagi dengan apa yang mereka miliki. Bukan untuk memetik kesenangan karena melihat kegembiraan orang-orang papa tatkala menerima kepingan uang receh yang ia berikan. Kita juga perlu mendidik mereka untuk senantiasa berharap bisa berbagi apa yang mereka miliki. Kita pacu mereka untuk bekerja dengan sungguh-sungguh. Kita kobarkan tekad mereka untuk bersedia memeras keringat agar dengan itu bisa berbagi.

Artinya, mereka bukan hanya kita biasakan sebagai perpanjangan tangan orangtua, tetapi betul-betul dilatih untuk memberi. Apa bedanya?

Kadang kita merasa sudah cukup mendidik mereka untuk dermawan dengan memberi kepingan uang receh untuk mereka berikan kepada pengemis. Sepintas tindakan ini sepertinya sudah cukup untuk mengajarkan keutamaan berderma. Tetapi sebenarnya yang kita lakukan hanyalah menyuruh mereka mengantarkan uang. Bukan memberi. Itu pun yang kita berikan hanya uang receh, yang kalau jatuh di jalan tak akan kita cari.

Bukan berarti memberi uang untuk diberikan kepada peminta-minta tidak berguna. Tetapi ini hanya bagus sebagai pembelajaran bagi balita. Itu pun sebatas memberi pengalaman memberikan uang yang dititipkan kepadanya. Bukan pengalaman untuk berbagi dan berderma. Sebab, kita memberi hanya karena ada yang meminta. Bukan memberi karena merasa perlu memberi. Lebih mulia dari itu adalah memberi karena merasakan betapa orang lain sangat memerlukan.

Alhasil, pengalaman memberikan uang receh kepada pengemis hanya membiasakan mereka untuk tidak gusar pada pengemis. Jauh lebih bermanfaat adalah pengalaman diajak orangtua mengantarkan derma kepada tetangga yang memerlukan, sahabat dekat maupun jauh yang sedang memiliki keperluan mendesak, atau keluarga yang perlu disantuni. Kita sengaja mendatangi mereka untuk berbagi. Kita sengaja berbagi karena sadar bahwa itu mulia.

Dan karena berbagi itu mulia, kita secara sengaja berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mampu memberi derma. Bahkan kalau perlu, tunjukkan kepada anak bahwa untuk berderma dalam takaran yang memberi manfaat itu, kita secara sengaja menyisihkan harta, menabungnya untuk kemudian memberikan kepada yang memerlukan. Kita juga tunjukkan kepada anak tentang besarnya keinginan kita untuk bisa memberi dalam jumlah yang lebih besar, seukuran yang bisa meringankan beban orang lain. Pada saat yang sama kita memotivasi mereka untuk kelak mereka bisa berbuat yang lebih.

Jadi, ada tiga hal yang perlu kita tanamkan di sini. Pertama, memberi sebagai kesengajaan yang disertai usaha dan bahkan perjuangan serius. Kedua, kita memberi untuk meringankan beban dan memberi manfaat, bukan sekadar untuk meringankan perasaan bersalah kita. Apalagi hanya untuk memetik kesenangan dengan mengundang orang-orang miskin datang ke rumah kita, mengumumkan kemiskinan mereka dan kedermawanan kita dengan memberi harta yang tidak seberapa. Ketiga, kita ajari anak-anak untuk memberi dengan harta yang berguna. Bukan sekadar uang receh yang apabila jatuh di jalan, kita tidak menghentikan kendaraan untuk mengambilnya.

Selebihnya, kita tanamkan kepada mereka tekad untuk bisa memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi agama dan umat ini; tekad untuk bisa memberi yang lebih besar dan lebih baik di masa-masa yang akan datang. Ini diwujudkan dengan kerja keras dan kesungguhan berbagi.

Tentu saja, pada saat yang sama mereka juga perlu kita ajarkan untuk menakar pemberian. Sebab, memberi tanpa ilmu akan melemahkan orang yang kita beri. Memberi derma kepada saudara kita yang memiliki keperluan sangat mendesak dalam hidupnya, tentu sangat berbeda dengan memberi pengemis. Apalagi jika mereka mengemis karena mencukupkan diri dengan pekerjaan tersebut.

Sesungguhnya, di antara orang-orang yang meminta-minta itu ada yang memetik keuntungan besar darinya, sehingga mereka tak mau lagi berusaha bekerja keras dan produktif.

Menguatkan Tekad

Agar keinginan, kesediaan dan tekad untuk berbagi itu melekat kuat pada diri mereka, kita perlu mengulang-ulang nasihat, inspirasi, anjuran, dorongan secara langsung maupun pengalaman-pengalaman berbagi secara bermakna.

Pembelajaran yang disertai dengan pemberian pengalaman akan berkesan bagi mereka. Tetapi jika tidak ada perulangan, lama-lama akan menguap habis sehingga anak-anak itu tak mempunyai lagi keinginan –apalagi tekad—untuk berderma. Sementara jika sekedar memperoleh perulangan nasihat maupun pengalaman tanpa makna, lama-lama pesan itu akan hambar. Tidak menggerakkan jiwa.

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan tekad. Sekali waktu misalnya, kita bisa mengajak mereka untuk mengunjungi lembaga bisnis milik Muslim yang memiliki komitmen bagus terhadap agama. Kita bisa tunjukkan kepada mereka berapa besar keuntungan yang diperoleh dari bisnis itu. Kemudian kita mengajak mereka untuk melihat, apa amal shaleh yang bisa dilakukan dari keuntungan bisnis tersebut. Selanjutnya, kita bertanya apa yang bisa mereka lakukan kelak dan menanamkan tekad untuk menolong agama Allah SWT dengan membiayai dakwah serta menolong orang-orang yang papa.

Kita juga bisa mengajak mereka mendatangi pusat kota dan melihat gedung-gedung yang tinggi (meskipun mungkin Anda melewatinya setiap hari), lalu mengajak mereka untuk mencita-citakan amal shaleh di masa yang akan datang.

Intinya, kita merangsang mereka untuk berkeinginan melakukan amal shaleh yang sebaik-baiknya, memelihara tekad tersebut dan memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh. Kita ajari mereka bekerja keras untuk bersedekah. Bukan bersedekah agar memperoleh harta yang lebih banyak. Semoga dengan itu kelak mereka termasuk orang-orang yang benar imannya. Bukan mendustakan! Wallahu a’lam.

Mohammad Fauzil Adhim
[pkskelapadua]
pkssiak.org - Every child needs a hero.” Demikian Ibu Elly Risman, psikolog kondang pernah menyebutkan. Memang benar. Tentang ini, penulis ingin bercerita tentang tiga jagoan di rumahnya.
Si Bungsu, hampir 7 tahun, sungguh mengidolakan super hero yang kuat, jago pedang, tak terkalahkan. Sesuai usianya, anak ini menyukai jenis hero dari permainan 'minecraft' dan 'lego hero factory'. Duh, namanya saja bikin rieut (pusing-red). Bersyukur, ia masih mengenal Khulafaurrasyidin dan Sahabat lain seperti Hamzah dan Khalid bin Walid.
Si Tengah, yang akan segera meninggalkan bangku SD-nya, punya pahlawan yang lain. Detektif handal Sinichi Kudou dan Heiji Hattori pilihannya. Saat ikut silaturahim ke rumah seorang teman pun dia mengeluarkan deduksinya berdasarkan jumlah sepeda yang terparkir di garasi: "Teman Ummi ini anaknya 4 orang ya?" Duh..Ada-ada saja.
Berbeda lagi dengan si Sulung yang sudah baligh. Rasanya dunia 'ABG' masa umminya terasa jauh bermasa-masa darinya zamannya. Hero-nya ialadh salah seorang personil PeeWee Gaskin, disebutnya sebagai sosok yang hebat. Mengapa? Karena mampu bangkit dari keterpurukan sambil tetap memberikan motivasi bahwa "life goes on though others look down on you". Wow! Sang Ummi bahkan tak penah dengar tentang itu. Tapi poin plusnya, alhamdulillah Sulungku ini dekat dengan Abi-nya dan 'look up to him as another kind of hero'.
Demikianlah. Hero alias pahlawan bagi setiap anak bisa jadi berdasar pada kriteria yang berbeda. Hingga tak semua anak tahu dan bisa mengidentifikasi siapa yang layak jadi pahlawan mereka. Disinilah peran orangtua berperan. Gambaran sosok hero bagi seorang anak biasanya tak jauh dari apa yang mereka lihat dan pelajari dari orangtuanya. 
 
Maka himbauan Ibu Netty Heryawan : 20 menit #DampingiAnak sungguh sangat relevan. Secara personal, one to one, berbincang dengan ananda adalah jalur termudah yang semestinya bisa selalu kita akses. Bisa saat anak menggambar atau bermain lego dan Ummi menemani sambil menjahit, atau berbincang sambil menyetir di perjalanan mengantarnya, bahkan juga saat mencuci piring bersama. Tapi yang jelas tanpa gadget, karena itu akan mengurangi konsentrasi anda pada anak, hingga bisa-bisa tidak keluar cerita darinya. Sungguh Bunda, Ayahanda, malah 20 menit itu rasanya tidak cukup lho! Anak-anak ternyata punya begitu banyak cerita. Mari menikmati kebersamaan ini, selagi bisa! (Danik Easteria)[pksbandungkota]

995136_174589672725047_610635530_n-300x223

pkssiak.org - Oleh: Miarti

Pembaca setia…! Mungkin sering dantara kita yang tanpa sadar menyepelekan buah hati kita, apakah melalui sikap, ucapan, gestur, atau bahkan melalui tatapan mata. Contoh sederhana misalnya, anak bertanya tentang sesuatu, lalu kita bersikap datar dan memberi jawaban sekenanya. Contoh lainnya, anak begitu antusias menyampaikan sebuah informasi, lalu kita hanya menyikapinya dengan cara yang sangat sederhana alias cukup hanya dengan berkata; “Ooooh”.

Dan yang lebih menyakitkan bagi anak adalah ketika ia menawarkan atau menyodorkan sebuah ide, lalu kita berkomentar dengan nada yang sentimentil atau dengan sikap reaktif. Contohnya : “Mama, kayaknya dinding rumah itu harus dikasih bantal deh. Biar kepala Si Adek gak sakit kalo kejedot.” Mendengar penuturannya yang unik, sang Mama langsung menjawab dengan tergesa; “Itu kan berlebihan. Masa dinding tembok dilapisi bantal…? Yang wajar saja lah…!”

Nah, bagi siapa saja diantara Ayah dan Bunda yang merasa pernah berkomentar senada, cukup sudah dan jangan sampai terulang. Komentar atau sikap demikian sangat menjatuhkan. Bagi seorang anak, sebetulnya sangat wajar untuk berkomentar apapun. Termasuk memberi ide se”gila” apapaun. Karena mereka memiliki energi dan potensi yang bisa jadi jauh lebih berkapasitas daripada kita. Sementara tugas utama kita adalah menyisipkan berbagai pesan sehingga mereka tetap berada dalam bingkai-bingkai normatif.

Selanjutnya, satu hal yang sering tidak kita sadari yang termasuk dalam konteks “merendahkan” anak adalah, kita mengobrol panjang lebar dan heboh dengan lawan bicara yang sesama orang dewasa. Sementara anak kita mematung sendirian sambil mendengarocehan kita yang belum tentu dipahami atau belum tentu layak untuk ia dengar. Pada saat “obrolan seru” kita berlangsung, sementara ia hanya duduk diam tanpa diakrabi atau bahkan disapa, pada saat pula ia merasa dirinya dinomorduakan atau bahkan tidak dianggap apa-apa.

Suatu saat, kita semua perlu untuk belajar membalikkan sudut pandang. Dalam hal ini, kiranya perlu bagi kita utuk membuat sebuah pertanyaan tentang bagaimana rasanya jika kita tidak diacuhkan atau tidak dipedulikan orang. Sakit hati bukan? Atau bahkan kita merasa tidak dihargai atau merasa tidak dianggap apa-apa.

Nah, demikian pula dengan buah hati kita. Mereka sama dengan kita. Meskipun mereka masih kecil dan kita orang dewasa, tetapi mereka dan kita sama-sama memiliki perasaan standar seperti merasa tidak dihargai, merasa dilecehkan, merasa dihinakan, dan lain-lain.

Masalahnya, egosentrisme kita sebagai manusia dewasa kadang-kadang kurang bersikapqona’ah dalam mengakui kelebihan mereka. Sehingga yang tertancap kuat dalam persepsi kita adalah bahwa;
  • Anak hanyalah sesosok makhluk kecil yang belum mengerti apa-apa
  • Anak hanyalah sosok tak berdaya yang cukup menjadi objek diktatoris orang dewasa
  • Informasi yang disampaikan anak tidaklah se-valid informasi yang disampaikan orang dewasa
  • Pertanyaan anak hanyalah pertanyaan biasa yang tidak terlalu berarti apa-apa atau bahkan membuat orang dewasa merasa kesal
Padahal semestinya, kita memiliki ruang khusus dalam jiwa kita masing-masing untuk menyimpan persepsi positif tentang anak. Dan diantara persepsi positif itu adalah;
  1. Setiap pertanyaan yang diajukan anak adalah salah satu bukti dari kuriositas (rasa ingin tahu) mereka
  2. Anak itu brilian, sehingga mampu mengeluarkan komentar atau argumen atau gagagsan yang menakjubkan. Bahkan kalimat-kalimat unik yang tidak kita bayangkan sekalipun berpotensi muncul dan mengalir dari mulut seorang anak.
  3. Anak itu memiliki sensitifitas yang cukup tinggi, sehingga mereka mampu menakar kadar kita dalam memberi respon. Dan mereka pun sangat cerdas dalam mencicipi hambar dan lezatnya respon yang kita berikan.
  4. Anak memiliki urutan kebutuhan yang sama dengan orang dewasa (kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan rasa nyaman, kebutuhan untuk DIHARGAI dan kebutuhan untuk beraktualisasi)
Oleh karena itulah, menjadi orang tua memang butuh latihan yang ikhlas dan sustainable(berkesinambungan). Termasuk latihan merespon sikap atau ucapan atau antusiasme anak. Dan diantara latihan yang semestinya menginternalisasi dalam kehidupan kita sehari-hari adalah;
  1. Menjadi pendengar yang baik
  2. Murah dalam memberi penghargaan
  3. Menjaga ekspresi wajah dan gestur agar tetap hangat dan acceptance
  4. Memberi komentar yang baik dan mendidik, bukan komentar yang merendahkan dan menyakitkan
  5. Mengapresiasi ide-ide briliannya
  6. Menghargai privasinya
  7. Memberikan tugas yang ia sanggupi dan ia senangi
  8. Berbaik sangka terhadap maksud atau rencana yang ia miliki
  9. Mintai opini atau pendapat untuk menyelesaikan sebuah persoalan
  10. Jika ada yang salah dengan dirinya, beritahukan dengan bijak dengan cara personal alias tidak di depan orang lain.
Berikutnya, salah satu latihan yang tidak boleh terlewatkan adalah latihan mengurangi kesombongan posisi. Artinya, hanya karena posisi kita sebagai orang tua, tidak berarti bahwa kita boleh berbuat sekehendak serta menilai anak kita sebagai makhluk yang belum memiliki kemampuan apa-apa. Sebaliknya, yang terbaik untuk kita adalah merefleksi tentang seberapa besar penghargaan kita terhadap anak. Selanjutnya, kita bersama-sama memahami bahwa dalam bentuk apapun kita merendahkan kemampuan anak, semuanya termasuk dalam kategori pelecehan psikologis. Oleh karena itulah, mari belajar lebih bijaksana, sehingga kondisi emosinya yang positif dan rentan, tidak lagi terluka dan terluka.

Alloohu ‘alam bish showaab. Semoga bermanfaat.
[pksjatim]
muslim_kids1508

pkssiak.org - Pembaca setia. Ada satu hal yang hampir tidak disadari oleh para orang tua bahwa ternyata, kita terlalu berlebihan dalam memperlakukan anak. Berbagai keinginannya selalu dipenuhi, rengekannya selalu diikuti, setiap permasalahan yang dihadapi anak hampir selalu ditolong secara pragmatis, dll. Bahkan bila ada satu ketidaknyamanan sedikitpun pada diri anak, secepat kilat kita menangkisnya.

Banyak dampak negatif yang akan muncul dari akibat terlalu memanjakan anak. Salah satunya, anak yang terlalu dmanjakan memiliki peluang besar untuk tampil sebagai pribadi yang penakut. Bahkan pada titik ekstrim, anak akan sangat bergantung pada orang lain dan tidak memiliki kepercayaan diri untuk sekadar menyatakan dirinya “mampu” berbuat sesuatu. Sehingga sangat wajar jika kemudian timbul beberapa perilaku yang yang sangat tidak diharapkan seperti;
  •  Tidak mampu menyelesaikan masalah
  • Tidak memiliki second opinion
  • Egois
  • Semua keinginannya harus selalu terlayani dan terpenuhi
  • Harus selalu sempurna
  • Keras kepala
  • Emosi tidak stabil
  • Kurang peka terhadap kondisi atau permasalahan yang ada
  • Tidak percaya diri
  • Kurang mampu bergaul dengan baik
  • Penakut
Profil yang cukup dominan pada diri anak yang diakibatkan oleh pola asuh yang memanjakan adalah sifat PENAKUT. Dalam hal ini, takut salah, takut dengan ketidaknyamanan, takut dengan bahaya yang mengancam, takut tidak mampu menyelesaikan masalah, dan lian-lain. Namun walau bagaimanpun, sifat penakut harus dihindari. Karena semakin ia dibiarkan bersama sifat penakutnya, maka ia akan semakin merepotkan kita sebagai orangtuanya.

Berikut beberapa tips dan trik yang wajib Anda pelajari supaya Anda tidak kebablasan memanjakan anak;
1.        Hindari Kebiasaan Mendramatisir Kesulitan
Yakinkan pada anak bahwa segala sesuatu bisa ditempuh dengan mudah.
Pernyataan Anak : “Kakak nggak sekolah Ma… Habis teman-temannya pada nakal semua. Kakak nggak mau sekolah lagi.”
Tanggapan yang harus dihindari : “Ooo gitu ya Nak ya? Ya udah, hari ini boleh Kakak libur dulu. Nanti Mama dating ke sekolah. Mama mau bilang sama Bu guru.”
Tanggapan yang sebaiknya diungkapkan : “Memang siapa aja yang nakal sama Kakak? Pertemanan itu biasa Nak… Kakak juga harus belajar berteman yang baik, biar Kakak lebih nyaman di sekolah.”
2.        Jangan Pernah Mengafirmasi Traumatik
Kadang-kadang para orang tua sering mengulang-ulang, mengomentari, mengingat kembali kejadian pahit atau pengalaman tidak nyaman yang sempat dialami anak seperti kecelakaan dan lai-lain yang pada akhirnya anak menjadi lemah dan mngingat-ingat terus pengalaman pahitnya. Padahal traumatik itu bisa disembuhkan.
Pernyataan Anak : “Bunda, pokoknya aku nggak mau ikut outbound lagi. Takut jatuh kayak dulu.”
Tanggapan yang harus dihindari : “Mmmm… Kakak masih ingat terus ya sama kejadian tempo hari. Ya udah nggak apa-apa. Kalau Kakak masih takut nggak usah ikut aja.”
Tanggapan yang sebaiknya diungkapkan : “Ooo gitu ya? Tapi khan sekarang belum tentu jatuh. Lebih hati-hati aja. Teman-teman juga pada mau ikut semua kok. Gimana? Berani ya…?”
3. Revisi Semua Pernyataan “Keraguan”
Jangan pernah berhenti membujuk sampai anak merevisi pernyataan keraguan atau ketakutannya. Misalnya, kita belum berhasil memujuk anak (anak laki-laki) sehingga ia mau dikhitan. Ada saja alasan yang diungkapkannya sehingga rencana untuk pelaksanaan khitan tertunda dan tertunda lagi. Nah, sebagai orang tua cerdas, pastika bahwa setiap anak kita memunculkan kalimat-kalimat keraguan, segera tangkis dan luruskan dengan kalimat-kalimat yang lebih optimistis. Ingat, setiap anak itu bisa dikondisikan.

4. Berikan hanya kalimat-kalimat positif yang membangun
Ingat, kalimat-kalimat negatif itu melemahkan. Kalimat-kalimat negatif itu justru membuat anak tak berdaya.

5. Terbukalah untuk menjadi orangtua yang selalu memberi kesempatan.
Pada umumnya, karena alasan ingin segera rapi dan atau dikejar waktu, banyak orang tua yang akhirnya menyelesaikan hal-hal yang sebetulnya bisa dijadikan sebagai media pembelajaran anak. Misalnya merapikan tempat tidur, memakai sepatu, menyiapkan bekal, dll. Bila hal-hal demikian pada akhirnya serba ditangani orang tua, dan kesempatan anak untuk mencoba semakin tipis, maka berpotensilah untuk tampil sebagai pribadi yang serba bergantung.

6. Hindari pencegahan yang berlebihan
Perlu disadari bahwa semakin dicegah apalagi ditekan, maka ada satu ketidakpuasan pada diri anak yang tidak terekspresikan yang sebenarnya bisa ia ledakkan atau lampiaskan pada tempat, waktu, kondisi atau kesempatan yang lain.

7. Berikan Peluang untuk Berkompetisi
Jangan pernah membiarkan anak kita merasa cukup dan merasa puas dengan kemampuan yang dimilikinya. Dan disinilah salah satunya mengapa anak perlu bergaul, bersekolah, mengenal komunitas, dll.

8. Ajak ia beradaptasi di medan yang Menantang
Kehidupan itu, belajar menghadapi tantangan. Dan ini berlaku secara fitrah bagi setiap manusia sejak lahir ke dunia hingga  kematian tiba. Semakin anak berada di zona aman dan terus-menerus berada pada kondisi super nyaman, sesungguhnya akan semakin menyulitkan dirinya untuk menghadapi tantangan hidup dan memiliki imunitas yang sangat lemah.

Semoga bermanfaat. Allohu’alam bish showaab.

[al-intima']