Select Menu

SaintekSIROH

PKS BERKHIDMAT UNTUK RAKYAT

BERITA SIAK

FIQIH

SIROH

Kesehatan

Saintek

Video Pilihan

Dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda , Abu Bakar dan Umar adalah dua orang pemimpin golongan paruh baya penghuni surga, dari orang orang yang terdahulu dan yang datang kemudian.”

Dari Abu Said Al Khudri ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Hasan dan Husain adalah dua pemimpin pemuda penghuni surga.”

Pemimpin yang benar adalah yang memuji Tuhannya dan bersaksi kepadaNya. Sedangkan , pemimpin perempuan yang mulia adalah yang ridha dengan TuhanNya dan menerimaNya dengan baik. Dan, perempuan yang paling utama adalah mereka yang menghuni surga na’im karena para perempuan penghuni surga tetap lebih utama. Adapun para pemimpin perempuan penghuni surga adalah Khadijah, Fatimah, Maryam, dan Asiyah.

Dalam Musnad karya Ahmad, Musykilul Atsar karya Ath Thahawiy, dan Mustadrak karya Hakim, disebutkan dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah SAW menggaris di atas tanah dengan empat garis, kemudian bersabda, “Tahukah kalian apa ini.” Para sahabat menjawab,”Allah dan RasulNya lebih mengetahui.” Kemudian, beliau bersabda lagi, “ Perempuan penghuni surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwalid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Muzahim, isteri Firaun.”

Maryam dan Khadijah adalah yang lebih utama di antara mereka. Dalam Shahih Bukhari dari Ali bin Abi Thalib bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Sebaik baik perempuan adalah Maryam dan sebaik baik perempuan adalah Khadijah.”

Sumber : Na’imuha wa Qushuruha wa Huruha, Mahir Ahmad Ash-Shufiy)

PKS SIAK, Menjadi yatim sejak dalam kandungan bukanlah hal yang mudah. Tak ada sentuhan sang ayah saat dalam kandungan, pun dengan belaian di masa kecil dan interaksi-interaksi inspiratif lain saat balita. Meskipun, di sana terdapat hikmah yang besar. Allah Ta’ala mewafatkan ‘Abdullah bin ‘Abdul Muthalib sebab Muhammad yang kelak menjadi Nabi akan diurus-Nya secara langsung.

Kehidupan yatim itu pun makin berat ketika sang bunda pergi saat dirinya masih kecil. Belum genap sepuluh tahun. Bukankah sentuhan bunda kandung adalah kebahagiaan dan pendidikan yang tak tergantikan? Tetapi, di sana terdapat hikmah yang amat besar.

Ditinggalkan oleh bunda Aminah binti Wahab, Muhammad mulia yang masih belia diasuh oleh dua orang bunda yang tak kalah luar biasanya; Ummu Aiman sang budak peninggalan ayahnya, dan Fathimah binti Asad-bibi yang amat menyayanginya, istri Abu Thalib.

Sebab yatim piatu sejak belia, Nabi Muhammad pun amat disayangi oleh kakeknya. Beliau senantiasa berpesan agar Ummu Aiman menjaga Muhammad belia dengan seksama. Apalagi, tuturnya sering kali, “Perhatikan Muhammad. Tadi, aku melihatnya bersama anak-anak lain di dekat pohon bidara.” Pungkasnya sampaikan pesan, “Orang-orang Ahli KItab meyakini bahwa cucuku ini kelak menjadi Nabi umat ini.”

Tak bisa dielakkan, ajal pun memisahkan kasih sayang sang kakek dengan cucu kebanggaannya itu. Muhammad kecil pun diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Agak meenyedihkan, kehidupan Abu Thalib ini serbakekurangan dari segi ekonomi. Bahkan, anak-anaknya jarang mendapati makanan yang cukup.

Tetapi, kehidupan sukar secara ekonomi itu berangsur pudar dan berganti berkah setelah Muhammad hadir di rumah itu. Berkah makanan, tak pernah kekurangan, bahkan susu satu gelas-setelah diminum oleh Muhammad-bertambah banyak dan mengenyangkan seluruh anggota keluarga itu.

Semakin membanggakan, Muhammad kecil tidak pernah mengeluh lapar atau halus. Sebagaimana dikisahkan oleh Ummu Aiman sang ibu asuhnya, “Beliau minum seteguk air zamzam di pagi hari. Saat aku menawarinya makan di siang hari, beliau menjawab, ‘Tidak usah. Aku tidak lapar.’”

Di antara keajaiban lain, Muhammad kecil selalu rapi, meskipun bangun tidur. Padahal, anak-anak Abu Thalib yang menempati rumah dan tempat tidur yang sama mengalami kondisi yang jauh berbeda. Tutur Syeikh Mahmud al-Mishri, “Anak-anak Abu Thalib acak-acakan, rambut mereka awut-awutan, dan mata mereka penuh kotoran.” Sangat berbeda dengan Muhammad kecil yang, “Ia bangun tidur dalam kondisi sangat rapi. Rambutnya tersisir dan berminyak, matanya bersih dan bercelak. [Kisahikmah]

PKS SIAK, Jika ditanyakan “Apakah cara yang harus ditempuh untuk menggapai bahagia?”, tentu akan muncul banyak jawaban. Perbedaan jawaban berasal dari perbedaan sudut pandang masing-masing, sesuai dengan kecenderungan dan gaya hidupnya.

Menurut Nabi ‘Isa ‘Alaihis Salam, seseorang dikatakan harus merasakan bahagia jika dia sudah melakukan tiga hal ini.
Lisan selalu Berdzikir

Bahagia adanya di dalam hati. Ketenangan hati bisa digapai dengan memperbanyak dzikir kepada Allah Ta’ala. Berdzikir yang merupakan ibadah unggulan harus dilakukan dengan kalimat-kalimat pujian yang termaktub dalam Kitab Suci al-Qur’an, hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maupun ucapan para sahabat dan ulama’ shaleh yang takut kepada Allah Ta’ala sebagai generasi penerus Nabi dan Rasul.

Sedangkan sebaik-baik dzikir adalah Kalam Allah Ta’ala. Ia bisa dibaca kapan saja, dari bagian mana saja, sebanyak mungkin sesuai dengan kemampuan seorang hamba selama tidak melanggar hak-hak bacaan.

Maka sebaik-baik bacaan al-Qur’an adalah yang masuk ke dalam hati, dan memengaruhi pembacanya untuk mengamalkan kandungan di dalamnya. Mereka itulah generasi sahabat nabi yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala.
Diamnya Berfikir

Ada ungkapan yang amat masyhur bahwa diam adalah emas. Dalam Islam, diam disyariatkan jika tidak ada perkataan baik yang harus disampaikan. Diam ketika tak ada kebaikan yang disampaikan juga menjadi salah satu tanda baiknya iman seseorang.

Maka dalam diamnya, orang yang beriman akan senantiasa berpikir. Mereka memikirkan keajaiban-keajaiban yang Allah Ta’ala sampaikan melalui alam semesta dan dalam dirinya. Alhasil, karena memikirkan hal itu, mereka senantiasa berada dalam kebaikan yang membahagiakan.

Sebab, jika pikiran tidak sibuk dengan memikirkan ayat-ayat Allah Ta’ala, maka  ia akan sibuk dengan memikirkan kesia-sian dan maksiat.
Pendapatnya Beribrah

Lisan yang senantiasa berdzikir dan senantiasa memikirkan ayat-ayat Allah Ta’ala dalam diam, maka perkataan yang disampaikan pun akan mengandung kebaikan semata. Setiap kalimat yang meluncur darinya adalah motivasi, harapan, mengingatkan keutamaan akhirat, peringatan agar tidak terlena dengan dunia, dan sebagainya.

Alhasil, selain mereka yang mengucapkan mendapatkan kebaikan, orang yang mendengarkannya pun akan mengalami rasa serupa. Kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian tersebut akan menular sehingga semakin banyak orang yang merasakannya.

Sobat, mari bahagiakan diri dengan berdzikir, berpikir, dan berpendapat yang memiliki pelajaran nan berharga.

Sumber Kisahikmah
Ket. Foto Ilustrasi

PKS SIAK, Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan, ‘Aisyah istri Rasulullah menuturkan, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada suatu malam pernah tak bisa tidur semalam penuh.” Maka, anak Abu Bakar ash-Shiddiq ini pun bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang terjadi padamu?”

“Aku berharap,” jawab Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “ada seorang saleh dari sahabatku yang menjagaku mala mini.”

Tiba-tiba, lanjut ‘Aisyah mengisahkan, keduanya mendengar suara senjata. Rasulullah pun meninggikan suara seraya bertanya, “Siapa itu?”

Dari arah suara senjata terdengarlah jawaban, “Ini aku, Sa’id bin Malik.”

“Untuk urusan apa engkau datang ke mari?” tanya Nabi kedua kali.

“Ya Rasulullah,” jawab sahabat saleh itu, “aku datang ke sini untuk menjagamu.”

Lepas mendapatkan penjagaan, ‘Aisyah pun memungkasi kisahnya, “Maka, aku pun mendengar suara tidur Rasulullah.”

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih-nya masing-masing dan dikutip oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya ini merupakan penjelas dari tafsir surat al-Maidah [5] ayat 67.

Sebelum ayat tersebut diturunkan, ada sahabat yang menjaga Nabi. Kemudian setelah diturunkannya ayat tersebut, tidak ada lagi yang menjaga beliau. Allah Ta’ala langsung menjaganya sebagaimana firman-Nya, “Allah melindungi kamu dari (gangguan) manusia.”

“Sampaikanlah Rislah-Ku,” tutur Imam Ibnu Katsir menjelaskan makna ayat ini, “niscaya Aku akan menjaga, menolong, dan mendukungmu dalam menghadapi musuh-musuhmu, serta memenangkan dirimu atas mereka.”

“Karena itu,” lanjutnya, “tak usah takut atau bersedih.” Sebab, “Tidak ada seorang pun yang dapat berlaku jahat terhadap dirimu atau menyakitimu.”

Hendaknya riwayat agung ini menjadi motivasi bagi kaum Muslimin agar senantiasa bersemangat dan tidak gentar dalam berdakwah dan berjihad di jalan Allah Ta’ala. Sebagaimana janji-Nya kepada Rasulullah, Dia akan menjaga siapa yang menyampaikan dan memperjuangkan Risalah-Nya yang suci kepada seluruh umat manusia.

Jika seorang dai langsung dilindungi oleh Allah Ta’ala, mungkinkah ada manusia lemah yang kuasa menyakitinya? Bukankah Dia Mahakuasa atas segala sesuatu? Bukankah amat mudah bagi-Nya untuk membinasakan semua musuh-musuh dakwah?

Maka jika pun ada yang disakiti di jalan dakwah, hendaknya hal itu menjadikan para dai semakin yakin bahwa tiada kemuliaan yang diraih tanpa ujian. Bahkan, Islam yang suci ini menuntut pengorbanan terbaik dari diri kita, termasuk nyawa yang hanya satu ini.

Sumber : Kisahikmah
Foto : ilustrasi

PKS SIAK, Kabar kekalahan pasukan Romawi oleh pasukan kaum Muslimin pun dilaporkan kepada Raja Heraclius. Kepada utusan yang melapor, Heraclius berkata, “Celakalah kalian! Celakalah kalian! Coba ceritakan tentang musuh yang mengalahkan kalian itu? Bukankah mereka sama seperti kalian?!”

Apakah yang dilaporkan oleh utusan kepada Raja Heraclius yang disinyalir sebagai sebab utama kemenangan kaum Muslimin dalam berbagai jihad yang terjadi? Mungkinkah kita bisa menjadi bagian penyongsong kejayaan Islam yang dijanjikan itu? Bagaimana caranya?

Jawab sang utusan atas tanya rajanya itu, “Benar. Mereka sama dengan kami.”

Uber Heraclius seraya menyelidiki, “Apakah jumlah kalian lebih banyak dari mereka?”

“Bahkan,” kisah sang utusan, “jumlah kami berlipat-lipat dari jumlah mereka dalam setiap peperangan.”

“Lalu,” gertak sang Raja, “ada apa dengan kalian ini?” Pungkasnya sampaikan tanya, “Mengapa kalian menjadi pecundang?”

“Mereka semua,” tutur salah satu utusan yang merupakan pembesar Romawi, “bangun untuk mendirikan shalat malam. Siangnya, mereka senantiasa berpuasa. Hubungan mereka dengan sesama pun amat memesona; tepati janji, mengajak kepada kebaikan, mencegah dari perbuatan mungkar, dan saling menolong antara satu dengan yang lainnya.”

Berkebalikan dengan amalan yang dilakukan oleh kaum Muslimin, pembesar ini melanjutkan penuturannya, “Sedangkan pasukan-pasukan kami senantiasa meminum arak, berzina, melanggar yang haram, berbuat curang, melakukan kezaliman, mengkhianati janji, menjadi sebab perseteruan, membuat kerusakan di muka bumi, dan meninggalkan perintah-perintah Tuhan.”

Mendengar keterangan dari utusannya, Heraclius mengatakan sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad bin Marwan al-Maliki yang dikutip oleh Dr. Najih Ibrahim dalam Kepada Aktivis Muslim, “Jika demikian, wajar kalau mereka menang dan kalian kalah.”

Ketaatan kepada Allah Ta’ala dan menjauhi segala jenis maksiat dan dosa. Itulah di antara sebab utama kemenangan kaum Muslimin generasi perdana. Mereka amat menjaga kualitas iman dan takwa dengan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Mereka melakukan kewajiban dengan kualitas terbaik, mengiringinya dengan amalan sunnah unggulan, dan senantiasa menjaga diri dari perbuatan sia-sia, dosa, dan maksiat dalam berbagai kadarnya. Mereka menolong agama Allah Ta’ala, sehingga Allah Ta’ala pun menolong mereka dengan amanah kejayaan.

Kiatnya sederhana. Tapi, amat sukar dalam mengamalkannya. Namun, semoga kita bisa terpilih menjadi salah satu penerus mereka. Aamiin.

Sumber kisahikmah

PKS SIAK, Dzikir - ilustrasi whattalkingdotcomUmar bin Khaththab merupakan salah satu sosok yang masuk Islam lantaran dikabulkannya doa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Setelah ikrarkan syahadat, Umar banyak mengukir teladan kebaikan di segala lini kehidupan. Baik dalam kapasitasnya sebagai seorang sahabat, suami, ayah, rakyat, pemimpin, dan dalam predikatnya sebagai hamba Allah Ta’ala.

Dalam banyak peristiwa, Umar bin Khaththab sering memiliki pendapat berbeda dengan pendapat Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Uniknya, justru pendapat Umarlah yang bersesuaian dengan wahyu yang Allah Ta’ala turunkan.

Semasa hidupnya, Umar adalah sosok yang amat tegas. Bahkan, para umahat langsung terdiam saat Umar datang, padahal sebelumnya mereka asyik menyampaikan sesuatu kepada Rasulullah. Diamnya para umahat adalah sebentuk rasa hormat, sebab mengetahui karakter Umar.

Dalam sabda Rasulullah yang lain juga disebutkan bahwa setan lebih memilih lari dan mencari jalan lain saat berpapasan dengan Umar di jalan yang sama. Itulah di antara alasan mengapa Umar mendapat julukan al-Faruq dan disebut sebagai salah satu pintu fitnah. Kelak setelah Umar wafat, fitnah yang dialami kaum muslimin semakin menjadi-jadi.

Dalam memimpin, Umar adalah teladan tiada banding. Hingga kini, keteladanan Umar senantiasa dibincang harum dalam banyak literatur dan forum diskusi. Beliau adalah pemimpin yang tegas, peduli, bijaksana, tak pilih kasih, dan adil. Sebagai seorang pemimpin, beliau tak segan atau malu untuk memikul gandum yang hendak diberikannya kepada rakyat miskin nan kelaparan.

Pada suatu siang, Umar kelelahan sebab mengurus rakyatnya seharian. Beliaupun beristirahat di atas tumpukan tanah dan kerikil berlinangan keringat. Dalam episode kelelahan ini, Umar memanjatkan doa yang amat menyentuh hati. Beliau meminta kepada Allah Ta’ala dengan sesuatu yang tak banyak dilakukan oleh pemimpin lain selepasnya.

“Ya Allah,” pinta Umar lirih, “usiaku sudah semakin udzur, tubuhku semakin tua,” dan, lanjutnya terbata, “rakyatku sudah semakin banyak.” Itulah kalimat yang dipilih oleh Umar dalam panjatkan doa. Sebuah pengakuan bahwa dirinya hanyalah manusia biasa yang memiliki sifat lemah nan tak berdaya di hadapan Rabbnya.

Dalam jenak, bibirnya semakin terbata melanjutkan pinta, “Kembalikan aku kepada-Mu dalam kondisi tidak menyia-nyiakan mereka, dan dalam kondisi tidak termakan fitnah.” Duhai, dalam lemahnya fisik yang dirasakan, beliau masih sibuk meminta sesuatu untuk rakyatnya.

Lanjutnya semakin jelas, “Tetapkanlah bagiku kematian sebagai syahid di jalan-Mu, dan wafat di tanah Rasul-Mu.” Beliau yang gagah perkasa itu, dengan tunduk meminta kematian di jalan Allah Ta’ala. Kemudian sebagai wujud rindunya kepada Nabi, Umar juga memohon agar diwafatkan di tanah kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Sumber Kisahikmah

PKS SIAK, Kepada semua Nabi yang diutus-dari Nabi Adam hingga Nabi ‘Isa ‘alaihimus salam-diambil perjanjian agar mereka membenarkan apa yang dibawa oleh Rasul terakhir yang kelak hadir di akhir zaman. Maka semua Nabi itu meyakini dan membenarkan perjanjian itu dengan mengatakan, “Kami mengakui.”

Inilah makna yang terdapat di dalam surat Ali ‘Imran [3] ayat 80 dan 81. Ayat ini dikuatkan dengan riwayat-riwayat shahih yang termaktub dalam hadits-hadits Nabi yang mulia juga penjelasan para sahabat, tabi’in, dan pengikut tabi’in, serta orang shaleh setelahnya.

Dikatakan oleh ‘Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin ‘Abbas, “Allah tidak mengutus seorang Nabi melainkan telah dimbil perjanjian kepadanya; Jika Allah Ta’ala mengutus Muhammad, sedang mereka dalam keadaan hidup, niscaya para Nabi itu akan mengambil janji dari umatnya.”

Janji yang dimaksud adalah, “Jika Muhammad diutus dan mereka (kaum para Nabi) masih hidup, niscaya mereka akan beriman kepada Muhammad dan menolongnya.”

Dalam riwayat lain disebutkan, datanglah ‘Umar bin Khaththab seraya berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku telah memerintahkan kepada saudaraku yang beragama Yahudi dari suku Quraizhah untuk menulis ringkasan Taurat.”

Lanjut ‘Umar seraya menawarkan ringkasan Taurat kepada kekasihnya itu, “Berkenankah engkau jika aku perlihatkan hal itu kepadamu?”

Dikisahkan dari ‘Abdullah bin Tsabit bahwa wajah Nabi memerah selepas mendengar perkataan ‘Umar. Maka ‘Abdullah pun menegur ‘Umar, “Tidakkah engkau melihat perubahan pada wajah Rasulullah?”

Sosok yang tegas dan ditakuti setan ini pun langsung memahami, kemudian ia berkata, “Aku rela Allah Ta’ala sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Rasulku.”

“Maka,” sebagaimana disebutkan dalam riwayat Imam Ahmad ini, “hilanglah rona kemarahan dari wajah Nabi.”

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggamannya, seandainya Musa ‘alaihis salam berada di tengah-tengah kalian, lalu kalian mengikutinya dan meninggalkanku,” terang Rasulullah, “maka kalian telah tersesat.”

Dan, yang paling mengharukan adalah perkataan Nabi di akhir hadits, “Sesungguhnya kalian adalah (umat yang menjadi) bagianku dan aku adalah (Nabi yang menjadi) bagian dari kalian.”

Sedangkan bukti lainnya: Rasulullah menjadi imam shalat di Baitul Maqdis dalam peristiwa Isra’; sosok yang kelak bisa memberikan syafa’at kepada umatnya; dan Imam para Rasul Ulul ‘Azmi. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad.

Sumber kisahikmah

PKS SIAK, Banyak perjalanan hidup yang bisa dikail untuk dijadikan hikmah kehidupan. Begitu banyak kisah inspiratif di sepanjang sejarah yang mampu menjadi pemantik semangat jiwa. Ada limpahan pelajaran kebajikan dari banyak episode kehidupan untuk kebaikan generasi setelahnya.

Dalam hamparan padang pasir kisah itu, kita bisa memilah dan memilihnya; bukan untuk mencocokkan, tetapi untuk meneladani yang paling tepat, sebab masing-masing individu memiliki kecenderungan dan kisahnya masing-masing.

Adalah Abu ‘Abdullah bin Zadaan al-Kindi. Seorang pemain musik dan penyanyi fenomenal di masanya. Namanya termasyhur di seantero negeri sebagai sosok yang mampu melantunkan berbagai jenis lagu, bahkan menciptakan dan juga bermain musik. Sungguh, kelebihannya adalah bakat yang sukar dicari tandingannya.

Suara yang merdu, kepiawaian memainkan alat musik, dan pesona seninya, sebagaimana dikisahkan oleh Solikhin Abu Izzudin dalam Bersama Ayah Meraih Jannah, “Dia menjadi salah seorang yang populer, dikagumi, dan digemari masyarakat Kuffah saat itu.”

Kemudian, perjalanan hidup mengantarkannya pada sebuah episode yang berbalik seratus delapan puluh derajat; berubah total. Berpaling dari musik dan nyanyian yang melenakkan menuju cahaya Islam yang menyejukkan hati para penganutnya. Sebabnya pun sangat sederhana, hanya satu kalimat.

Sezaman dengan Abu ‘Abdullah sang penyanyi adalah sosok ahlul Qur’an dan sahabat Nabi yang terpilih, ‘Abdullah bin Mas’ud. Qadarullah, saat Abu ‘Abdullah tengah melantunkan suara emasnya dengan nyanyian yang membuat jiwa terlena dengan dunia, lewatlah sang ‘Abdullah bin Mas’ud.

Demi mendengar keelokan, merdu, cengkok yang sempurna, dan keistimewaan-keistimewaan lain dalam suara Abu ‘Abdullah itu, ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Indah sekali suara ini jika digunakan untuk membaca Kitabullah…”

Hanya satu kalimat yang diucapkan. Yang karenanya, tulis Solikhin Abu Izzuddin meneruskan kisahnya, “Abu ‘Abdullah bin Zaadan segera berhenti bernyanyi. Dia bertaubat dari bernyanyi dan bermain musik.” Dan, pada episode kehidupan selanjutnya, ia menjadi salah satu murid terbaik dari sosok yang pernah diminta oleh Nabi secara khusus untuk membacakan al-Qur’an kepada baginda Nabi yang mulia.

Sosok yang bersih hatinya, bening pemikirannya, fasih lisannya, dan pernah dibela Nabi saat diejek oleh orang-orang terkait ukuran betisnya yang amat kecil. Padahal, dalam timbangan amal, betisnya itu amat berat sebab pemiliknya memiliki iman dan takwa yang agung.

Sumber Kisahikmah